KICAUBARITO.COM – Masa transisi kepemimpinan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Prabowo Subianto membawa harapan baru bagi masyarakat Indonesia, namun di balik proses tersebut tersimpan ancaman serius yang perlu diwaspadai: perang proxy. Ketika dua kekuatan besar bersaing untuk memperkuat pengaruh mereka di Asia Tenggara, Indonesia, sebagai negara demokrasi terbesar di kawasan, berisiko menjadi medan pertempuran perang proxy melalui aktor-aktor lokal yang dimanfaatkan untuk kepentingan geopolitik asing.
Perang proxy adalah strategi di mana kekuatan asing menggunakan pihak ketiga, baik negara, kelompok politik, atau individu, untuk mencapai tujuan strategis mereka tanpa terlibat langsung. Dalam konteks transisi kepemimpinan di Indonesia, perang proxy bisa muncul melalui upaya pengaruh asing untuk memanfaatkan momen ini demi mendorong agenda ekonomi, politik, atau militer mereka.
Masa transisi kekuasaan adalah periode yang sangat rentan terhadap infiltrasi politik. Saat kebijakan berubah dan tatanan baru terbentuk, ada risiko kelompok-kelompok kepentingan asing mencoba memengaruhi proses ini. Mereka dapat melibatkan diri dalam kontestasi kekuasaan di balik layar, baik melalui dukungan finansial, media, atau lobi politik, dengan tujuan mengarahkan arah kebijakan pemerintahan baru sesuai dengan agenda mereka.
Seiring dengan masuknya Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kedaulatan politiknya. Prabowo, dengan latar belakang militer yang kuat, menghadirkan janji untuk memperkuat pertahanan nasional dan menjaga ketahanan ekonomi Indonesia. Namun, di tengah peningkatan persaingan antara kekuatan besar, seperti Amerika Serikat dan China, Indonesia bisa menjadi target bagi kepentingan asing yang ingin memanfaatkan transisi ini sebagai kesempatan untuk memperkuat pengaruh mereka di Asia Tenggara.
Salah satu cara yang mungkin digunakan dalam perang proxy adalah melalui pengaruh terhadap kebijakan ekonomi dan pertahanan Indonesia. Kekuatan asing mungkin berusaha memengaruhi kebijakan ekonomi dengan menawarkan investasi besar atau proyek infrastruktur yang tampaknya menguntungkan, namun di baliknya tersimpan agenda jangka panjang yang bisa merugikan kedaulatan ekonomi Indonesia. Selain itu, pengaruh terhadap kebijakan pertahanan bisa muncul melalui aliansi militer atau pembelian peralatan pertahanan yang datang dengan ketergantungan teknologi dan politis yang berisiko.
Selain itu, disinformasi dan propaganda digital juga merupakan instrumen utama perang proxy di era modern. Aktor-aktor eksternal bisa menggunakan media sosial dan platform digital untuk menyebarkan narasi yang dapat memperkeruh situasi politik, menciptakan ketidakpercayaan, atau bahkan memecah belah masyarakat. Dalam masa transisi ini, platform digital bisa menjadi ladang subur bagi kekuatan eksternal untuk memanfaatkan ketidakpastian politik dan memperkuat posisi mereka melalui disinformasi yang terencana.
Salah satu contoh nyata dari ancaman perang proxy ini adalah meningkatnya polarisasi politik yang dapat diperburuk oleh aktor-aktor eksternal. Jika kepentingan asing berhasil mendorong narasi tertentu melalui media atau elite politik lokal yang memiliki afiliasi internasional, transisi kekuasaan yang seharusnya berjalan damai bisa berubah menjadi ajang konflik internal. Polarisasi yang sengaja dipicu dapat menciptakan ketegangan antara kelompok pendukung Jokowi dan Prabowo, memperlemah stabilitas politik Indonesia, dan membuka ruang bagi kekuatan asing untuk mengambil keuntungan.
Untuk melawan ancaman perang proxy dalam masa transisi ini, pemerintah Indonesia, baik yang lama maupun yang baru, harus secara aktif menjaga integritas proses transisi. Kolaborasi yang baik antara tim transisi Presiden Jokowi dan Presiden terpilih Prabowo sangat penting untuk memastikan bahwa kebijakan strategis tidak disusupi oleh pengaruh asing. Badan-badan intelijen dan keamanan nasional juga harus memperkuat pengawasan terhadap aktor-aktor yang mencoba memanfaatkan situasi politik ini untuk mengganggu stabilitas.
Di sisi lain, peran masyarakat dalam menjaga kedaulatan nasional juga tidak kalah penting. Masyarakat perlu terus meningkatkan literasi politik dan digital agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang mungkin dibentuk oleh kekuatan asing. Kesadaran akan ancaman perang proxy di era modern harus menjadi bagian dari edukasi politik yang lebih luas, sehingga publik bisa lebih waspada terhadap setiap upaya yang berpotensi mengancam kedaulatan demokrasi.
Kesimpulannya, masa transisi dari Jokowi ke Prabowo Subianto menghadirkan tantangan besar bagi Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan politiknya di tengah meningkatnya persaingan global. Ancaman perang proxy nyata dan perlu dihadapi dengan kewaspadaan tinggi, kerja sama lintas sektor, dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga integritas demokrasi dan stabilitas nasional. Dalam menghadapi perang proxy, kekuatan Indonesia terletak pada persatuan dan kemampuan untuk menolak segala bentuk intervensi yang merugikan kedaulatan bangsa.
*OPINI PENULIS
























