kicaubarito.com, Jakarta – Jika saja pada akhirnya nanti Anies Baswedan sudah resmi didaftarkan ke KPU sebagai capres usungan “Koalisi Perubahan” Nasdem-Demokrat-PKS berpasangan dengan cawapres siapa pun orangnya, senjata yang diandalkan untuk meraih kemenangan pemilu hanyalah sentimen agama.
Politisasi agama telah melekat pada diri Anies, tidak akan dengan mudah lepas dari label yang memang menjadi tungangannya dalam persaingan politik. Dan dia merasakan sendiri bagaimana mudahnya memenangkan pilkada yang mengantarkannya menjadi gubernur DKI Jakarta. Tentu saja kenikmatan politisasi agama bagi Anies harus tetap diterapkan lagi pada pilpres 2024 mendatang, mengingat hanya dari kubu-kubu Islam konservatiflah dukungan kuat diberikan kepada Anies.
Kelompok Islam konservatif yang berada di belakang Anies, mampu membawa Anies dalam kemenangan pilkada DKI Jakarta. Nama Anies Baswedan belum masuk kategori negarawan dan tidak masuk dalam jajaran nama-nama tokoh nasionalis, nama Anies lebih cenderung masuk ke kelompok agamis sejak pilkada DKI Jakarta 2017. Penampilannya saja yang nasionalis seolah bisa menyatu ke berbagai golongan.
Anies Baswedan lebih mengandalkan kelompok Islam konservatif sebagai senjatanya, karena kelompok ini mampu mendesain terciptanya penyimpangan pemahaman dari ajaran yang sesungguhnya, dan diterima begitu saja oleh masyarakat. Rongga-rongga keimanan masyarakat yang seharusnya digenapi dengan pemahaman-pemahaman yang benar, malah disusupi pemahaman yang menakutkan.
Masyarakat diancam dan dibuat takut lewat pengajian yang disampaikan oleh pendakwah-pendakwah radikal. Keluguannya dalam mempelajari agama dimanfaatkan untuk memenangkan Anies. Dan yang lebih mengerikan lagi, siapapun orangnya yang berseberangan dengan kelompok ini, darahnya halal untuk diminum. Mereka gembar-gembor pemerintah menciptakan Islamphobia, padahal tingkah laku mereka sendiri yang menciptakan ketakutan-ketakutan masyarakat akan Islam.
Politisasi agama sebagai senjata andalan Anies Baswedan akan semakin kelihatan saat nanti berhadapan dengan Ganjar Pranowo ataupun Prabowo. Kelompok Islam konservatif akan menyerang dan mem-branding Ganjar Pranowo sebagai petugas/suruhan partai yang hanya menjalankan perintah partainya untuk membawa misi Kristen, China, anti-Islam, Antek Asing, dan sebagainya. Dan mempengaruhi opini publik, bahwa Anieslah satu-satunya yang bisa mengusir kubu anti-Islam di Indonesia. Ini merupakan sebuah keharusan dan harus dijalankan.























