Jakarta – Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berkonsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas pada perdagangan Selasa (3/12). Kenaikan ini didorong oleh harapan stimulus yang lebih besar dari China.
Pada awal perdagangan, rupiah tercatat menguat enam poin atau 0,03 persen menjadi Rp15.861 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp15.867 per dolar AS. “Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas oleh harapan stimulus yang lebih besar dari China,” ujar Lukman kepada ANTARA.
Menurut Lukman, China diproyeksikan akan melonggarkan kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung konsumsi domestik dan sektor properti. Namun, pasar masih menunggu data inflasi AS yang akan dirilis besok. Inflasi utama AS diprediksi meningkat dari 2,6 persen pada Oktober menjadi 2,7 persen pada November 2024, yang menjadi perhatian utama investor.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini. Lukman memperkirakan kurs rupiah akan bergerak dalam rentang Rp15.800 hingga Rp15.900 per dolar AS sepanjang hari ini.
Dinamika ini mencerminkan ketidakpastian global sekaligus harapan terhadap langkah-langkah kebijakan di negara-negara ekonomi utama dunia, yang dapat memberikan dampak pada stabilitas nilai tukar rupiah.
























