Memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada hari ini, penguatan ideologi bangsa kembali menjadi sorotan utama. Di tengah dinamisnya perkembangan zaman dan tantangan global, masyarakat diajak untuk tidak melonggarkan genggaman pada nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pemersatu bangsa.
Pesan kuat ini disampaikan oleh Guru Besar sekaligus tokoh ulama Kalimantan Tengah, Prof. Dr. KH. Khairil Anwar, M.Ag. Ia menegaskan bahwa Pancasila dan agama tidak bersumber dari dua kutub yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan dalam menjaga bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Pancasila adalah kesepakatan luhur (kalimatun sawa) para pendiri bangsa yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Berpegang teguh pada Pancasila berarti kita sedang merawat rumah besar Indonesia agar tetap teduh bagi semua golongan,” tutur Prof. Khairil Anwar, Rabu (20/5).
Moderasi Beragama dan Harmoni Sosial
Dalam pandangan akademisi senior ini, penerapan Pancasila di era modern—khususnya tahun 2026 yang penuh dengan keterbukaan informasi—harus dimanifestasikan melalui sikap moderasi beragama (wasathiyah) dan inklusivitas sosial.
Ia menjabarkan tiga pilar penting yang harus dijaga oleh segenap masyarakat:
- Menolak Ekstremisme Pemikiran: Pancasila mengajarkan keseimbangan. Masyarakat diimbau untuk tidak terjebak dalam pemikiran ekstrem, baik yang terlalu radikal maupun yang terlalu liberal, yang dapat merusak tatanan moral bangsa.
- Merawat Tenun Kebinekaan: Menjadikan perbedaan suku, ras, dan agama sebagai kekayaan, bukan sumber perpecahan. Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” harus melahirkan insan yang mengasihi sesama manusia (Sila kedua).
- Edukasi Berbasis Karakter: Mendorong lembaga pendidikan untuk tidak hanya fokus pada kecerdasan kognitif atau teknologi, tetapi juga pada internalisasi akhlakul karimah yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
Menghadapi Dekadensi Moral di Era Digital
Prof. Khairil Anwar juga mengekspresikan perhatiannya terhadap tantangan moral generasi muda di ruang siber. Menurutnya, derasnya budaya luar dan individualisme digital berpotensi mengikis empati dan kepedulian sosial yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
“Teknologi berkembang pesat, tetapi fondasi spiritual dan ideologi tidak boleh rapuh. Kita butuh Pancasila sebagai penyaring (filter) budaya global. Gotong royong, kesantunan, dan tabayyun (verifikasi informasi) adalah implementasi nyata Pancasila yang harus kita hidupkan kembali di media sosial,” jelasnya.
Menutup arahannya, Prof. Khairil Anwar mengajak momentum Kebangkitan Nasional 2026 ini dijadikan refleksi spiritual untuk memperkuat komitmen kebangsaan.
“Mari kita bangkit bersama, memperkokoh persatuan dengan menjadikan Pancasila sebagai panduan etis dan moral dalam berbangsa. Ideologi ini telah teruji oleh sejarah, dan tugas kita hari ini adalah memastikan nilainya tetap membumi dan dirasakan oleh generasi masa depan,” pungkasnya.























