kicaubarito.com, Jakarta – Pernyataan ‘tidak ada kawan yang abadi dalam politik’ itu memang benar adanya. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana hubungan antara Gerindra dan Anies.
Sebagaimana kita ketahui bahwa pada Pilgub DKI 2017 silam, Anies diusung oleh Gerindra. Itu artinya hubungan mereka baik-baik saja.
Tidak hanya itu, Prabowo pun turun gunung kala itu, turut mengkampanyekan Anies.
Bahkan Prabowo sempat menjelek-jelekkan Ahok, dengan meminta maaf kepada warga DKI, ‘dulu saya salah pilih orang’.
Atau dengan kata lain, Ketum Gerindra tersebut ingin mengatakan, keputusannya mengusung Ahok di Pilgub DKI 2012 silam merupakan keputusan yang fatal. Karena ternyata Anies-lah yang paling tepat untuk memimpin DKI.
Dan Anies pun begitu. Ia berjanji tidak akan mengkhianati Prabowo.
Artinya, selama Prabowo nyapres maka dia tidak akan ikut bertarung di Pilpres.
Tapi ternyata godaan itu sangat besar ferguso. Lebih besar dari bacot Novel Bamukmin yang mengaku didukung oleh 130 juta rakyat Indonesia.
Pertama, ia diberi tiket oleh Surya Paloh yakni diusung oleh NasDem sebagai Capres 2024.
Kedua, elektabilitasnya cukup tinggi.
Ketiga, PKS dan Partai Demokrat sebagai partai oposisi berpotensi untuk mendukungnya.
Dan keempat, kelompok-kelompok garis keras seperti eks FPI, eks HTI, PA 212 serta orang-orang yang benci sama Jokowi kehilangan tuan pasca Prabowo jadi Menteri Pertahanan. Mereka ini sangat potensial untuk dijadikan basis massa oleh Anies.
Apalagi Kadrun manut banget sama Rizieq. Apa yang dikatakan oleh mantan Bang Toyib itu pasti akan mereka turuti. Termasuk mendukung Anies.
Artinya cukup dekatin Rizieq saja, ribuan suara bisa didapat secara gratis. Tanpa perlu keluar modal untuk beli nasi bungkus.
Terakhir, Anies menjilat air ludahnya sendiri dengan menerima pinangan dari NasDem tersebut, yang sebelumnya dia sudah tahu kalau Prabowo akan nyapres lagi pada Pilpres 2024 mendatang.
Jadi sekarang antara Anies dan Gerindra bisa dibilang musuhan. Walaupun Prabowo-lah yang membersihkan nama Anies kala itu pasca dipecat dari kursi menteri.
Karena menganggap Anies sebagai musuhnya dan telah mengkhianati bosnya, kader Gerindra pun mulai melancarkan serangan kepada mantan Menteri Pendidikan tersebut.
Seperti yang dilakukan oleh Ketua DPD Gerindra Sumbar, Andre Rosiade.
Baru-baru ini ia mengatakan, Capres yang diusung Gerindra merupakan kader sendiri. Bukan orang dari luar.
“Jelas Capres (yang diusung Gerindra) kader partai kami. Bukan cabutan atau outsourcing seperti partai lain, yang butuh calon yang suka pindah-pindah dukungan” demikian ujar Andre dengan nada bangga.
“Mungkin hari ini ikut konvesi partai tertentu, lalu nganggur, ikut partai tertentu. Itu bedanya (antara Capres Gerindra dan Capres yang diusung oleh partai lain)” lanjutnya lagi.
Jelas apa yang disampaikan oleh Andre tersebut mengarah ke NasDem dan Anies.
Kenapa demikian? Karena si Anies, bakal Capres yang diusung oleh NasDem bukan kadernya.
Memang kalau diperhatikan rada gak ada akhlak si Anies ini. Dia ngebet ingin berkuasa. Bahkan sudah sejak 2014 silam ingin jadi Capres lewat konvensi Partai Demokrat, tapi gagal. Kemudian ikut Pilgub DKI 2017. Lalu mau ikut Pilpres lagi 2024. Tapi gak mau jadi kader partai.
Padahal kalau diperhatikan semua Presiden Indonesia merupakan kader Parpol. Mulai dari Soekarno; PNI, Soeharto; Golkar, Habibie; Golkar, Gus Dur; PKB, Megawati; PDIP, SBY; Partai Demokrat dan Jokowi; PDIP.
Termasuk Syafrudin Prawiranegara, si presiden yang terlupakan, merupakan kader Partai Masyumi.
Tidak berhenti sampai di situ, Andre juga mengatakan Gerindra telah berhasil menempatkan kader terbaiknya sebagai Capres.
Nyindir Paloh banget. Hehehe
Mentang-mentang sejak dulu kala sampai sekarang NasDem tidak pernah punya Capres sendiri, diungkit-ungkit-lah oleh Andre.
Hanya saja kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang disampaikan oleh politisi yang pernah menjebak PSK online di Kota Padang itu.
Karena apa gunanya mendirikan partai kalau pada akhirnya hanya untuk menjadi tunggangan orang lain yang gak mau masuk partai?
Yang namanya partai jelas tujuannya berkuasa. Yang disebut partai penguasa itu adalah partai yang kadernya terpilih jadi Presiden. Seperti PDIP sekarang disebut partai penguasa lantaran yang jadi presiden adalah kadernya Jokowi.
Sementara NasDem, bagaimana mau jadi partai penguasa kalau Surya Paloh saja gak berani nyapres?























