kicaubarito.com, Jakarta – Bawaslu RI secara resmi menyatakan tidak bisa memproses dugaan pelanggaran kampanye Anies di Aceh, karena saat ini belum ada yang disebut capres dan belum masuk masa kampanye.
Tapi ditinjau dari sisi etika politik, kegiatan safari politik yang dilakukan Anies dapat dipandang sebagai tindakan yang kurang etis, karena telah melakukan aktivitas kampanye terselubung dan terkesan mencuri start dalam melakukan kampanye sebagai calon presiden.
Secara hukum tidak melanggar, tapi secara etika, lain lagi ceritanya. Tidak usah perdebatkan masalah ini lagi. Karena biar gimanapun, ini takkan menghentikan langkah Anies dan Nasdem untuk tetap melakukan safari politik.
Wakil Ketua Umum Partai Nasdem Ahmad Ali merespon tudingan terhadap Anies mengenai curi start kampanye. Dia menegaskan, tidak ada yang salah dengan safari politik Anies di sejumlah daerah.
“Nasdem itu tidak mencuri start, tapi start duluan,” kata Ali.
Bagus, ada istilah baru lagi dalam dunia politik. Bukan mencuri start, tapi start duluan. Nasdem sekarang sudah ketularan jurus menata kata dari Anies. Nasdem sudah terkena pola pikir dan keahlian Anies. Apakah Anies yang ajari atau Nasdem yang ikut kursus menata kata dari Anies?
Nama jalan diganti, istilah rumah sakit diganti, istilah normalisasi sungai diganti.
Pemborosan anggaran diganti jadi kelebihan bayar. Sekarang malah curi start kampanye dibilang start duluan.
Memang kalau dalam satu lingkaran pergaulan, lama-lama sifat, pemikiran, pola pikir dan perilaku berubah jadi mirip. Ibarat kalau kita yang bukan perokok, bergabung dengan orang-orang yang semuanya perokok, biasanya cepat atau lambat kita akan ikut-ikutan. Dimulai dari mengisap sekali, lalu mengisap sebatang, lalu kebablasan mengisap sehari sebungkus rokok. Beberapa teman saya juga mengalami itu.
Makanya, banyak yang bilang, hati-hati dengan pergaulanmu. Kadang perilakumu akan berubah mengikuti perilaku mereka.
Nasdem adalah buktinya. Nasdem sekarang sudah pintar mengolah kata dan istilah. Mulai mirip-mirip dengan kelompok sebelah.
Ali kemudian mempertanyakan, di mana letak pelanggaran Anies. Menurutnya, Anies tidak melanggar aturan apa pun.
“Mencuri start apa? Apa yang dicuri startnya? Emang sudah diatur apa? Aturan apa yang dilanggar oleh Anies hari ini?” katanya.
Ali menjelaskan safari politik yang dilakukan oleh Anies bukan bagian dari kampanye. Melainkan sebagai bentuk sosialisasi terhadap figur Anies.
“[Safari politik Anies] Sosialisasi terhadap figur Anies, dan ini kita harapkan juga figur-figur lain. Figur-figur lain melakukan hal yang sama supaya ada memasuki tahapan bahwa pilpres itu kita masyarakat sudah memahami secara komprehensif terhadap calon-calon yang ada,” kata Ali.
Memang susah kalau bahas ini. Safari politik yang katanya perkenalan sosok calon pemimpin, sangat beda tipis dengan kampanye. Sangat tipis sehingga hampir tidak ada bedanya. Kalau dibahas terus, tidak akan ada ujungnya seperti wahana bianglala.
Yang penting, kita bicara etis atau tidak etis. Tidak etis pun bisa dianggap tidak melanggar. Ini mungkin yang sedang digarap oleh mereka. Tidak masalah kalau disebut tidak etis, asalkan dianggap tidak melanggar aturan.
Deklarasi dan dukungan terhadap capres di rumah ibadah? Kira-kira etis tidak? Padahal sudah dari dulu dibilang jangan jadikan rumah ibadah sebagai tempat jualan politik.
Tapi tetap saja dilakukan. Masih ingat dengan majalah Anies yang diedarkan di Masjid di Malang tidak lama ini? Apakah itu etis?
Ngelesnya malah bilang start duluan, bukan curi start. Itu memang bukan curi start, tapi mengambil start yang bukan haknya, hehehe. Bukan mencuri start, tapi mengambil start tanpa seizin pemiliknya.
Rakyat sudah bosen dengan permainan kata-kata seperti ini. Ini seperti berusaha mengelak dengan cara yang konyol. Pintar membolak-balikkan kata biasanya tidak pintar bekerja. Biasanya sih begitu. Jarang sekali ada yang banyak cuap-cuap tapi banyak bekerja. Biasanya sih, banyak kerja sedikit bicara atau sedikit bekerja tapi banyak bicara. Terlalu fokus ngeles sehingga tidak ada waktu untuk bekerja.
Pada akhirnya, rakyat yang akan menilai apakah yang dilakukan Anies termasuk etis atau tidak. Aturan mungkin tidak bisa menghentikan langkah mereka. Tapi rakyat bisa.
























