Palangka Raya – Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kalimantan Tengah mulai menerapkan secara bertahap program Kamis Berbahasa Daerah di lingkungan sekolah sebagai upaya pelestarian budaya lokal. Program ini mewajibkan seluruh sekolah di bawah kewenangan Disdik Kalteng, seperti SMA, SMK, dan SKh, untuk menggunakan bahasa daerah setiap hari Kamis.
“Setiap Kamis, semua sekolah diinstruksikan untuk menggunakan bahasa daerah masing-masing,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Disdik Kalteng, Reza Prabowo, Senin, 23 Juni 2025.
Ia menjelaskan, misalnya di wilayah Barito akan digunakan bahasa Dayak Bakumpai atau Maanyan, sementara di wilayah lainnya menyesuaikan dengan bahasa daerah setempat. Selain penggunaan bahasa, sekolah juga didorong untuk mengenakan atribut khas Dayak seperti lawung dan sumping.
Menurut Reza, meski menghadapi tantangan dalam implementasi, terutama bagi guru yang bukan berasal dari daerah setempat, Disdik Kalteng terus melakukan edukasi dan evaluasi demi keberlanjutan program. Ia menegaskan pentingnya konsistensi dalam membentuk pendidikan yang tetap berpijak pada akar budaya.
“Kita tahu mengubah pola pendidikan itu tidak bisa sebulan atau setahun. Butuh konsistensi dan kontinuitas. Kami optimis, seiring berjalan waktu, pendidikan Kalteng semakin maju tanpa meninggalkan akar budaya,” tuturnya.
Program ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, yang ingin membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter kuat, dan mencintai budaya daerah. Gubernur menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tapi juga dari sikap dan karakter yang mencerminkan nilai-nilai lokal seperti Belom Bahadat (hidup beradat).
“Pak Gubernur sangat konsisten dan fokus di dunia pendidikan. Beliau ingin anak-anak kita bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, mindset yang baik, serta attitude yang terpuji,” kata Reza.
Disdik Kalteng juga memastikan program ini berjalan seiring dengan peningkatan fasilitas pendidikan dan penguatan kualitas sumber daya manusia, khususnya para pelajar di seluruh wilayah provinsi.
























