kicaubarito.com, Jakarta – Dalam video terbarunya mengenai Pilpres 2024, Ade Armando miyakini bahwa Anies Baswedan dan kubunya pasti akan menggunakan strategi politik identitas jika nantinya maju sebagai salah satu Capres pada 2024 nanti. Meski hal itu dibantah dengan keras oleh pendukung fanatiknya atau orang kepercayaannya seperti Geisz Chalifah, tetapi rekam jejak Anies, khususnya selama masa kampanye Pilkada 2019 jelas menunjukkan itu semua.
Mungkin secara terbuka Anies tidak menyebut bahwa segala macam tindakan, program, maupun perilaku pendukungnya sebagai bentuk politik identitas, tetapi dalam berbagai kesempatan Anies menyebut bahwa mengusung identitas dalam berpolitik adalah suatu kewajaran, dengan mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan identitas lawan politiknya untuk memenangkan persaingan.
Strategi yang terbilang berhasil pada Pilkada 2017 bagi Anies dan Sandiaga itu, diyakini Ade Armando akan diulang kalau sampai dia maju pada Pilpres 2004 nanti. Namun, strategi politik identitas itu disebut Ade tidak akan dilakukan kalau nama-nama yang akan bertarung di Pilpres 2024 nanti adalah Ganjar Pranowo, Airlangga Hartarto, Puan Maharani, atau Megawati Soekarnoputri.
Saya agak terkejut ketika adik Armando menyebut nama Megawati. Apakah ini bagian dari strategi untuk memuja PDI Perjuangan supaya PSI (partai yang didukung penuh Ade Armando) mendapat pintu yang lebih terbuka untuk bergabung bersama koalisi besar dengan restu PDI-P, seperti yang banyak dibicarakan saat ini?
Mungkin juga ada maksud ke arah sana, tetapi kita belum tahu pasti mengapa nama Megawati, juga Ganjar dan Puan Maharani disebut secara bersamaan oleh Ade Armando. Bisa jadi itu peringatan atau bisa juga semacam pesan rayuan, tetapi yang jelas belum ada kader murni dari PSI yang saya nilai mumpuni bahkan untuk disodorkan sebagai calon menteri sekalipun.
Kembali ke politik identitas dan kubu Anies Baswedan. Meeskipun saya meyakini bahwa strategi politik identitas kemungkinan besar akan tetap diusung oleh kubu Anies nantinya, tetapi saya juga agak curiga bahwa strategi yang berbeda akan mereka mainkan demi merangkul suara dari mayoritas pemilik muslim di luar kelompok radikal atau massa parpol yang selama ini terpukau dengan sosok eks Mendikbud dan rektor Paramadina yang gagal itu.
Ini yang kudu diwaspadai juga, karena dengan kelihaian bicaranya, dengan penampilan yang santun dan sedikit bumbu orasi dengan tiupan angin surga, ada kemungkinan kelompok yang dituju kubu Anies menjadi terlena, menganggap Anies sudah insaf dan berubah, lalu berbaris di kubu yang sama. Jadi, mari kita lihat apakah itu semua akan terjadi?
























