kicaubarito.com, Jakarta – Dua tahun mendampingi Anies Baswedan di DKI Jakarta, membuat Ahmad Riza Patria kapok. Pasalnya selama menjabat wakil gubernur, dia harus pontang-panting menjadi ban serep Anies. Sudah menjadi rahasia umum bukan jika 5 tahun Anies memimpin, Jakarta penuh cerita ketidakberesan.
Akhirnya, Riza yang harus pasang badan ketika ada kesimpangsiuran yang ditimbulkan oleh pasangannya. Nasib apes riza yang selalu berakhir di hadapan awak media, untuk memberi klarifikasi dari huru-hara yang ditimbulkan Anies.
Itulah yang membuat Riza ogah mendukung Anies, nyapres di pemilu mendatang. Hal serupa diungkapkan Mahfud MD melalui statemen kepada kawannya, Denny Indrayana. Ia mempersilahkan Denny untuk mendukung Anies, tapi tidak dengan pilihannya.
Memang hanya sepatah statemen itu yang tersampaikan di publik. Namun asumsi banyak bermunculan, karena Mahfud memberikan clue perbincangan mereka selanjutnya perihal capres potensial yang sudah masuk di riset lembaga survei.
Ranah Mahfud dalam pemerintahan sendiri sudah pada realisasi politik dan hukum, yang berjalan di negara ini. Jadi tidak mungkin sekelas Menteri sepertinya, mengeluarkan pendapat secara sembarangan.
Sama halnya dengan Riza yang sudah mengetahui bobroknya Anies selama memimpin. Sebagai pengamat dan eksekutor Mahfud juga pasti sudah fasih, dengan jalan politik eks gubernur ibukota itu.
Jangankan yang sudah ahli seperti Mahfud, rakyat biasa sepertiku saja bisa menilai hanya lewat rekam jejaknya selama menjabat sebagai gubernur. Kekacauan dan kerusakan sudah melekat dalam hasil kinerjanya.
Mahfud sudah mengeluarkan statemen untuk tidak menjatuhkan dukungannya kepada Anies, tapi sekarang elite politik Nasdem dan barisan pendukung Anies malah menjodohkan Mahfud dengan junjungan mereka.
Berbanding terbalik dengan apa yang dikemukakan Menko Polhukam itu. Satu bulan yang lalu, Mahfud berpanjang lebar di kick Andy. Salah satu pembahasannya mengenai PR besarnya untuk membersihkan Pemilu dari dua hal.
Yang pertama tentang maraknya politik identitas dan kedua tentang KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme). Ya jelas saja, sudut pandangku kembali mengarah kepada Anies Baswedan.
Yang mau dibersihkan Mahfud tadikan politik identitas, sedangkan sebutan bapak politik identitas saja tersemat cantik di nama Anies. Ia yang membangkitkan kaum radikal dalam Pilkada DKI 2017 lalu
Dari situlah mulai dikhawatirkan gaya politik yang penuh kontroversi ini, akan kembali terjadi pada 2024 nanti. Ketakutan Mahfud sudah terjadi pada 2019 lalu, dimana barisan kaum radikal memainkan perannya dalam pilpres.
Setelah Anies berhasil memainkan politik identitas, giliran Prabowo Subianto yang menjadi capres No.02 kala itu meniupkan genderang kebangkitan ormas radikal untuk menggelorakan dukungan padanya.
Inilah yang menjadi tantangan Mahfud, apakah bisa pesta demokrasi 2024 nanti menghilangkan politik identitas ini. Kalau menurutku bakalan sulit, sangat sulit jikalau Anies dan Prabowo jadi maju nyapres.
























