kicaubarito.com, Jakarta – Partai Demokrat kembali diterpa prahara. Pertarungan kepemimpinan Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko masih berlanjut.
Kisruh KLB Demokrat yang dilancarkan Moeldoko memasuki babak baru. Eks Panglima TNI itu mengajukan Peninjauan Kembali (PK).
Belum selesai, sosok mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum bakal bebas 10 April mendatang. Kembalinya Anas ke kancah politik nasional dinilai bakal menjadi ‘ancaman’ baru Partai Demokrat.
Bebasnya Anas dianggap menjadi angin segar bagi kubu Moeldoko yang terus melawan AHY. Anas diyakini bakal satu barisan dengan Moeldoko.
“Hal ini tentu akan memberikan sentuhan terindah lagi bagi eksistensi Partai Demokrat KLB pimpinan Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, dan akan lebih mempunyai daya hajar yang dahsyat bagi para politisi kubu AHY penghamba SBY yang memberhalakan Politik Dinasti dan tiranik,” ujar kubu Moeldoko, Saiful Huda dalam keterangannya, Selasa (4/4).
Anas disebut bakal membuka rahasia korupsi Wisma Atlet Hambalang dan beberapa kasus mega korupsi era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kini menjabat Ketua Majelis Tinggi Demokrat.
“Semua rahasia korupsi Wisma Atlet Hambalang beserta beberapa kasus mega korupsi lainnya di masa kepemimpinan nasional SBY konon akan dibukanya ke publik,” ujar Saiful.
Kembalinya Anas ini ditanggapi dingin oleh Demokrat. Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Demokrat Herzaky Mahendra Putra menyebut Anas sebagai pelajaran pahit partai berlambang bintang mercy ini.
“Ini kan bukan bagian dari kami lagi ya gitu. Kalau dari kami jelas, kami bersyukur bahwa kami punya pelajaran pahit di masa lalu yang membuat kami jauh lebih kuat,” kata Herzaky, Senin (3/5).
Pernyataan tersebut kembali ditangkis kubu Anas. Koordinator Nasional Sahabat Anas Urbaningrum, Muhammad Rahmad membalas, sejarah kelam Demokrat justru di era AHY dan SBY yang gagal mendapatkan suara besar pada Pemilu 2019.
“Sejarah kelam kedua adalah Perolehan suara pemilu dan kursi DPR RI terendah sepanjang sejarah Demokrat, terjadi ketika SBY menjadi Ketua Umum dan ketika Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edy Baskoro Yudhoyono alias Ibas diserahi tugas memenangkan pemilu,” kritik Rahmad.
Manuver Baru Moeldoko
Di tengah momentum kembalinya Anas, pertarungan AHY melawan Moeldoko terus berlanjut. Kasasi kubu Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang terkait kepengurusan Demokrat telah ditolak Mahkamah Agung pada 2022 lalu. Namun, kini kubu Moeldoko mengajukan Peninjauan Kembali (PK) karena mengajukan novum atau bukti baru.
Serangan Antasari
Serangan terhadap Demokrat oleh lawan politik SBY bukan barang baru. Pada tahun 2017 silam, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar membuka kotak pandora dugaan kriminalisasi terhadap dirinya. Antasari mengungkap ada peran keluarga SBY terhadap kasus yang membelitnya saat menjadi pimpinan komisi antirasuah.
























