Kuala Kapuas – Masyarakat Kuala Kapuas sempat digemparkan oleh kabar penampakan kuyang di kawasan wisata Siring. Meski belum dapat dipastikan kebenarannya, sejumlah warga mengaku pernah melihat sosok yang diyakini sebagai kuyang, sebuah fenomena yang kerap diceritakan dalam kehidupan masyarakat Kalimantan.
Berdasarkan kesaksian beberapa warga, kuyang diyakini bukan makhluk gaib, melainkan wanita yang mempelajari ilmu hitam demi kepentingan tertentu. Sosok ini disebut-sebut memiliki kemampuan untuk melepaskan kepala dan organ dalamnya dari tubuh, lalu terbang mencari darah wanita yang baru melahirkan.
“Biasanya mereka memilih waktu selepas Maghrib dengan menaruh badannya di tempat yang tersembunyi dan aman seperti di kolong rumah, kepala beserta organ tubuhnya akan melepaskan diri dan terbang,” ujar Sanah, seorang ibu rumah tangga paruh baya di Kuala Kapuas, Minggu, 6 Juli 2025.
Sanah menambahkan, kuyang kerap terlihat dari kejauhan sebagai titik cahaya berwarna merah atau kuning yang melayang di udara dengan ketinggian 50 hingga 100 meter. “Seringkali sosok ini akan bersembunyi di atas pohon lalu dengan cepat ke pohon lainnya, sehingga sangat sulit untuk diabadikan dengan kamera secara jelas jika menemukannya,” tambahnya.
Seorang warga lainnya, Tari, menyebutkan adanya tanda-tanda tertentu ketika kuyang berada di sekitar radius 100 meter. Tanda tersebut antara lain aroma amis darah dan suara kepakan sayap yang disertai suara lirih menyerupai dengkuran.
“Keberadaannya bahkan tidak bisa diendus, tiba-tiba saja korbannya merasakan rasa sakit memar dengan bekas berwarna biru yang menandakan ada darah yang dihisap sosok ini,” ujar Tari.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam kesehariannya, wanita yang disebut-sebut menjadi kuyang berbaur seperti orang biasa. Namun, biasanya memiliki ciri tertentu seperti kepribadian tertutup dan alergi terhadap bawang.
“Secara fisik, sekilas orang-orang tidak akan mengenali wanita yang menganut ilmu kuyang, kecuali dengan mengamati seksama lipatan di sekitar lehernya yang merupakan bekas peralihan kepala dan tubuh berpisah. Biasanya mereka akan menutupi dengan kain, sehingga orang tidak ada yang tahu,” pungkasnya.
Meski cerita tentang kuyang telah lama menjadi bagian dari folklore lokal, masyarakat diimbau tetap bersikap kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh rumor yang belum dapat diverifikasi secara ilmiah.
























